Perjalanan kali ini merupakan sebuah perjalanan dinas untuk melakukan eksplorasi potensi endapan bijih nikel di Sulawesi. Aku berangkat dari daerah Manggarai, Jakarta Selatan, menggunakan Kereta Bandara Basoetta, dan temanku yang bernama Pak Firman berangkat dari Bogor ke Bandara Soekarno-Hatta menggunakan jasa GrabCar, kami berencana untuk bertemu di bandara.
Aku sudah memperkirakan waktu sampai di bandara dengan waktu keberangkatan keretaku dan sudah aku lebihkan supaya ada sisa waktu. Namun temanku yang satu ini terlalu terburu-buru, hingga menelpon teman kantorku berulang kali, mencoba memastikan keberadaanku dimana. Dia bilang kepadaku, jika langsung sekalian di boardingkan tiketnya, karena dia sudah lama menunggu.
Aku pun turun dari kereta Basoetta dan langsung berjalan menuju pintu keluar,melewati portal elektronik untuk memindai tiket keretaku. Kemudian aku berjalan menaiki eskalator menuju ke tempat kereta Kalayang berada. Tujuanku adalah Terminal 2. Tak lama kemudian, kereta Kalayang sudah mendekati tempatku berdiri. Aku pun langsung masuk ke dalam kereta dan sesampainya di Terminal 2 aku masih harus berjalan lagi ke tempat boarding tiket, namun hanya lewat saja, kemudian lanjut ke ruang tunggu bandara sesuai dengan tiketku.
Kami tepat bertemu di Pintu 2D sebelum pemeriksaan barang bawaan. Kami pun kemudian menuju ke bagian pemeriksaan. Petugas memeriksa barang bawaan, dan ternyata ada barang bawaanku yang dilarang untuk dibawa masuk kabin pesawat. Aku merasa tidak membawa benda-benda tajam atau bahan kimia berbahaya. Ternyata box toolkitku tertinggal di tas. Aku pun mengikhlaskannya untuk diambil petugas bandara.
Perjalanan menuju Kendari ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dengan perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dengan Kendari. Sesampainya di Kendari, sembari menunggu bagasi Pak Firman, kami memutuskan menunggu di luar bandara karena bagasi sudah dititipkan ke Potter untuk diambil. Setelah bagasi sudah terambil, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan Hotel Purnama yang berada tidak jauh dari bandara. Sesampainya di sana, kami berdua menempati kamar yang terpisah dan oleh pegawai hotel ditawarkan minuman kopi. Ternyata sudah ada teman lama Pak Firman yang sudah menunggu di depan Hotel, dia bernama Mas Eko.
Tak terasa haripun sudah mulai gelap, akupun masuk kamar dan membuka barang bawaan, mengeluarkan perlengakapan mandiku. Setelah selesai mandi dan shalat Magrib, aku pun keluar dari kamar dan berada di ruang tamu tempat di mana ada meja, kursi dan tv besar di depannya. Kami bertiga dengan 2 kamar, Pak Firman sekamar dengan Mas Eko. Setelah sesaat menikmati camilan yang berada di atas meja dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 20.00 WITA, Pak Firman pun mengajak untuk makan malam. Dia sudah hafal daerah ini karena dulu ia sudah lama berada di sini. Mas Eko selaku driver pun memacu mobil di jalanan sambil sesekali diarahkan oleh Pak Firman. Terkadang mereka berdua saling usil, seperti kawan lama yang baru saja bertemu. Memang mereka sudah akrab sejak dulu, karena dari cerita Pak Firman, dulu waktu eksplorasi di Sulawesi, dia sering mengajak Mas Eko dan sering pula Pak Firman menginap di rumahnya.
Sesampinya di tempat makan yang berada di seberang masjid terapung, warung makan ikan laut ini menyajikan berbagai olahan dari hasil tangkapan laut, seperti ikan, cumi, kerang dan juga kepiting yang dibakar, digoreng ataupun dibuat menjadi olahan sup ikan. Kali ini aku ingin merasakan ikan kakap merah bakar yang ukurannya medium. Setelah menunggu beberapa saat, hidangan kamipun datang dan kami langsung bergegas untuk menyantapnya.
Pak Firman memesan sop ikan dan Mas Eko memesan udang goreng tepung dengan sayur ca kangkung. Setelah makanan habis, kami melanjutkan perjalanan untuk membeli perlengkapan kami tinggal flying camp di hutan. Rencanannya kami akan flying camp selama kurang lebih 5 malam 4 hari. Toko perlengkapan outdoor Eiger kami datangi dan membeli sleeping bag dan manset untukku karena aku belum memilikinya. Sembari kami juga mencari tenda, kebetulan di toko ini stok barangnya kurang lengkap, sehingga kami memutuskan untuk melihat toko outdoor Rei di seberang jalan. Kami pun akhirnya membeli tenda ditoko Rei sesuai dengan kapasitas yang kami inginkan, yakni 4 orang, dengan harga yang relatif terjangkau dan kualitasnya lumayan bagus, tak lupa kami juga membeli tali pengikat.
Setelah perlengkapan outdoor, kami melanjutkan ke toko bangunan untuk membeli perlengkapan penerangan seperti lampu, kabel, senter, kompor dan peralatan dapur lainnya. Sampai tengah malam sekitar pukul 23.00 WITA, kami baru kembali ke penginapan.Sesampainya di penginapan, kami bersantai di ruang tamu sembari mengobrol tentang perusahaan. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WITA. Kami pun kembali ke kamar untuk beristirahat, namun aku mengurungkan niat karena melihat ada pertandingan bola antara Juventus dan Lazio yang sayang untuk dilewatkan.
Next
Komentar
Posting Komentar