Langsung ke konten utama

CERITA DARI TANAH BUGIS

Part 1
Perjalanan dari Jakarta sampai di Penginapan 

Perjalanan kali ini merupakan sebuah perjalanan dinas untuk melakukan eksplorasi potensi endapan bijih nikel di Sulawesi. Aku berangkat dari daerah Manggarai, Jakarta Selatan, menggunakan Kereta Bandara Basoetta, dan temanku yang bernama Pak Firman berangkat dari Bogor ke Bandara Soekarno-Hatta menggunakan jasa GrabCar, kami berencana untuk bertemu di bandara.

Aku sudah memperkirakan waktu sampai di bandara dengan waktu keberangkatan keretaku dan sudah aku lebihkan supaya ada sisa waktu. Namun temanku yang satu ini terlalu terburu-buru, hingga menelpon teman kantorku berulang kali, mencoba memastikan keberadaanku dimana. Dia bilang kepadaku, jika langsung sekalian di boardingkan tiketnya, karena dia sudah lama menunggu.

Aku pun turun dari kereta Basoetta dan langsung berjalan menuju pintu keluar,melewati portal elektronik untuk memindai tiket keretaku. Kemudian aku berjalan menaiki eskalator menuju ke tempat kereta Kalayang berada. Tujuanku adalah Terminal 2. Tak lama kemudian, kereta Kalayang sudah mendekati tempatku berdiri. Aku pun langsung masuk ke dalam kereta dan sesampainya di Terminal 2 aku masih harus berjalan lagi ke tempat boarding tiket, namun hanya lewat saja, kemudian lanjut ke ruang tunggu bandara sesuai dengan tiketku.

Kami tepat bertemu di Pintu 2D sebelum pemeriksaan barang bawaan. Kami pun kemudian menuju ke bagian pemeriksaan. Petugas memeriksa barang bawaan, dan ternyata ada barang bawaanku yang dilarang untuk dibawa masuk kabin pesawat. Aku  merasa tidak membawa benda-benda tajam atau bahan kimia berbahaya. Ternyata box toolkitku tertinggal di tas. Aku pun mengikhlaskannya untuk diambil petugas bandara. 

Perjalanan menuju Kendari ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dengan perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dengan Kendari. Sesampainya di Kendari, sembari menunggu bagasi Pak Firman, kami  memutuskan menunggu di luar bandara karena bagasi sudah dititipkan ke Potter untuk diambil. Setelah bagasi sudah terambil, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan Hotel Purnama yang berada tidak jauh dari  bandara. Sesampainya di sana, kami berdua menempati kamar yang terpisah dan oleh pegawai hotel ditawarkan minuman kopi. Ternyata sudah ada teman lama Pak Firman yang sudah menunggu di depan Hotel, dia bernama Mas Eko.

Tak terasa haripun sudah mulai gelap, akupun masuk  kamar dan membuka barang bawaan, mengeluarkan perlengakapan mandiku. Setelah selesai mandi dan shalat Magrib, aku pun keluar dari kamar dan berada di ruang tamu tempat di mana ada meja, kursi dan tv besar di depannya. Kami bertiga dengan 2 kamar, Pak Firman sekamar dengan Mas Eko. Setelah sesaat menikmati camilan yang berada di atas meja dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 20.00 WITA, Pak Firman pun mengajak untuk makan malam. Dia sudah hafal daerah ini karena dulu ia sudah lama berada di sini. Mas Eko selaku driver pun memacu mobil di jalanan sambil sesekali diarahkan oleh Pak Firman. Terkadang mereka berdua saling usil, seperti kawan  lama yang baru saja bertemu. Memang mereka sudah akrab sejak dulu, karena dari cerita Pak Firman, dulu waktu eksplorasi di Sulawesi, dia sering mengajak Mas Eko dan sering pula Pak Firman menginap di rumahnya.

Sesampinya di tempat makan yang berada di seberang masjid terapung, warung makan ikan laut ini menyajikan berbagai olahan dari hasil tangkapan laut, seperti ikan, cumi, kerang dan juga kepiting yang dibakar, digoreng ataupun dibuat menjadi olahan sup ikan. Kali ini aku ingin merasakan ikan kakap merah bakar yang ukurannya medium. Setelah menunggu  beberapa saat,  hidangan kamipun datang dan kami langsung bergegas untuk menyantapnya.

Pak Firman memesan sop ikan dan Mas Eko memesan udang goreng tepung dengan sayur ca kangkung. Setelah makanan habis, kami melanjutkan perjalanan untuk membeli perlengkapan kami tinggal  flying camp di hutan. Rencanannya kami akan flying camp selama kurang lebih 5 malam 4 hari. Toko perlengkapan outdoor Eiger kami datangi dan membeli sleeping bag dan manset untukku karena aku belum memilikinya. Sembari kami juga mencari tenda, kebetulan di toko ini stok barangnya kurang lengkap, sehingga kami memutuskan untuk melihat toko outdoor Rei di seberang jalan. Kami pun akhirnya membeli tenda ditoko Rei sesuai dengan kapasitas yang kami inginkan, yakni 4 orang, dengan harga yang relatif terjangkau dan kualitasnya lumayan bagus, tak lupa kami juga membeli tali pengikat.

Setelah perlengkapan outdoor, kami melanjutkan ke toko bangunan untuk membeli perlengkapan penerangan seperti lampu, kabel, senter, kompor dan peralatan dapur lainnya. Sampai tengah malam sekitar pukul 23.00 WITA, kami baru kembali ke penginapan.Sesampainya di penginapan, kami bersantai di ruang tamu sembari mengobrol tentang perusahaan. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WITA. Kami pun kembali ke kamar untuk beristirahat, namun aku mengurungkan niat karena melihat ada pertandingan bola antara Juventus dan Lazio yang sayang untuk dilewatkan. 

Next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perhitungan kebutuhan alat berat penambangan batubara

  Dalam project penambangan terdapat beberapa point penting yang harus dianggarkan demi tercapainya target produksi. Point point penting adalah sebagai berikut : 1.        Fuel Cost 2.        Rent Cost 3.        Remuneration/salary 4.        Meals 5.        Consumable and Safety Fuel cost adalah budget bulanan yang wajib dikeluarkan Perusahaan untuk membisayai penggunaan fuel alat-alat operasional, seperti excavator, Dump truck, grader,dozer,Light vehicle (LV), genset dll. Sedangkan Rent cost adalah budget bulanan yang wajib dikeluarkan Perusahaan untuk membiayai biaya sewa alat-alat opersasional tersebut diatas, mau kita sewa ataupun milik pribadi tetap dianggarkan biaya pemakaian alat tersebut. Remuneration atau lebih dikenal dengan istilah gaji karyawan adalah budget bulanan untuk membayar kerja karyawan, biasanya...

Karakteristik Cekungan Salawati

KARAKTERISTIK CEKUNGAN SALAWATI DARI TATANAN TEKTONIK DAN HUBUNGANYA DENGAN PETROLEUM SYSTEM Agus Sabar Sabdono 21100112130051 soebaragoes@yahoo.com Teknik Geologi Universitas Diponegoro ABSTRAK Cekungan Salawati adalah cekungan migas yang berada di papua. Batuan sumber daerah Cekungan Salawati berasal dari batu lempung dan serpih Formasi Klasafet, batu gamping pada Formasi Kais dan batu lempung dan serpih pada Formasi Klasaman awal. Formasi yang diperhitungkan akan menghasilkan hidrokarbon adalah Formasi Kais. Jebakan hidrokarbon di Cekungan Salawati terdapat di Formasi Kais berupa kompleks terumbu karbonat dan karbonat paparan yang tersesarkan. Jebakan dalam jumlah yang lebih kecil ada di Formasi Klasafet dan Klasaman. Batuan penutup (seal rock) berupa serpih karbonat dari formasi Klasafet dan batu gamping kristalin Formasi Kais. Batuan yang menjadi overburden adalah batuan gamping (limestone) pada Formasi Kais, dan clay pada Formasi Klasafet, Klasaman dan Sele. Ka...

Formasi Tanjung (Tet), Formasi Puruk Cahu (Tomc), Formasi Pamaluan (Tomp), dan Formasi Gunung Api Malasan (Tomv)

  ANALYSIS ROCK FORMATION Source:   Mineral dan Batubara (esdm.go.id) 1.         Formasi Tanjung (Tet) Formasi ini berumur eosen, didalam peta ditunjukan dengan warna kuning, formasi ini menghasilkan endapan Batubara dengan kalori CV gar > 5000 kalori, dengan litologi batuan berupa batulempung, batupasir, Batubara dengan dominasi batulempung yang relative tebal. Batubara pada formasi ini termasuk medium kalori dengan multi seam. 2.        Formasi Puruk Cahu (Tomc) Formasi ini berumur oligosen-miosen, pada peta ditunjukan dengan warna hijau tua, formasi ini menghasilkan endapan Batubara dengan kalori gar > 5000 kalori dengan seam Batubara yang bervarasi antara 0.5m- 4 m didominasi perselingan batulempung dan batubasir. Batubara pada formasi ini termasuk Batubara medium kalori dengan multi seam, dan berumur lebih muda jika dibandingkan dengan Formasi Tanjung. 3.        Formasi Pamaluan (To...