Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, adakalanya saat malam hari bapak meninggalkanku untuk yasinan di tempat orang yang terkena musibah. Entah apa yang membuatku lebih suka tidur diluar daripada tidur didalam rumah. Sehabis salat Isya sekitar pukul 20.00 WIB, Bapak bilang kepadaku kalau dia akan yasinan di tempat warga desa sebelah. Biasanya Bapak berangkat bersama rekan-rekan santri yasinan di kampung. Halaman rumahku cukup luas, bisa untuk parkir 3 mobil. Di depan halaman ada bekas gapura dan ada tempat duduknya. Aku biasa menghabiskan malam di sana jika Bapak tidak ada di rumah. Waktu aku di luar sendirian, tetangga di depan rumah mengajakku untuk ke rumahnya sembari menunggu bapak pulang. Di sana aku bisa menonton tv sambil rebahan. Ketika aku terbangun, aku sudah berada di kasur rumah dan bapak sudah berada di sebelahku.
Tetanggaku bekerja sebagai karyawan jahit di sebuah
konveksi di daerahku dan suaminya bekerja sebagai tukang bangunan. Karena anak tetanggaku ini umurnya sepantaran denganku, maka aku sering main ke rumahnya sehabis pulang sekolah dan bahkan setiap hari aku main ke sana. Rumahnya sudah menjadi seperti basecamp berkumpulnya anak-anak
seumuranku. Dia memiliki orang tua yang tegas. Sekalinya marah, anaknya tidak ada yang berani berbicara sepatah katapun. Pernah, pada suatu pagi, ibu ini marah kepada anaknya, dan temanku ini mengucapkan sebuah kata-kata. Tak lama sebelum dia selesai berucap, mulutnya sudah tersambar sandal. Setelahnya, dia
diam dan tak berani membantah lagi. Rumah kami saling berdekatan dan
dikelilingi oleh sawah dan sungai yang menjadi tempat bermain kami. Setiap sore hari kami bermain di halaman rumah Mbah Rajinem, bermain sepak bola dan juga sering memetik buah jambu air di halaman depan rumahnya. Terkadang kita beramai-ramai melemparinya dengan
bola.
Ketika aku rebahan di lincak yang terbuat dari anyaman
bambu, Pak Sadi sedang duduk di kursi dan sering memijat kakiku, seperti
seorang bapak yang sedang memijat anaknya sendiri. Pak Sadi ini memiliki hobi
memelihara burung perkutut dan menonton bola. Setiap ada tayangan bola di televisi, Pak Sadi tidak pernah absen menontonnya. Di halaman rumah Pak Sadi ada
pohon srikaya. Ketika srikaya ini masak, sering ia berikan kepadaku atau kepada adikku. Dulu kami sering bermain kelereng di halaman rumah Pak Sadi.
Komentar
Posting Komentar